HALAMAN

Ruang Publik, Media Massa dan Masyarakat Indonesia


 

Oleh: Stara Asrita, S.I.Kom., M.A.

 

Pendahuluan

Kondisi masyarakat Indonesia berada dalam lingkungan yang heterogen, plural dan terbuka dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Demokrasi adalah solusi yang paling sering digunakan untuk mendapatkan sebuah kesepakatan bersama dalam sebuah sistem. Setiap individu diberi kebebasan untuk menyuarakan pendapat di ruang publik. Dalam ruang publik, masyarakat digambarkan aktif dan saling berkomunikasi. Media diharapkan menjadi penghubung antar individu agar dapat saling bertukar informasi sehingga dapat diputuskan kebijakan mana yang akan digunakan. Media akan membedakan tema atau topik yang dapat masuk ke dalam sistem dan mana yang tidak. Terkadang pilihan-pilihan tersebut datang dari ide dan gagasan masyarakat yang berada di ruang publik.

Di sisi lain, peran media massa adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat modern. Setiap saat, setiap waktu terjadi pertukaran informasi antara publik dan media. Apalagi saat ini publik semakin mudah untuk mengakses informasi apapun dari media dengan bantuan internet. Mereka tidak perlu menunggu berita yang sedang terjadi esok hari di surat kabar, dengan internet kejadian yang baru terjadi beberapa jam yang lalu dapat langsung dilihat di media online. Ruang publik menjadi semakin luas dengan individu-individu yang beragam dimana mereka dapat saling berinteraksi dalam memberikan ide atau gagasan. Media itu terbuka, bebas dengan berbagai perbedaan yang menjadi sebuah institusi penting dalam masyarakat.

Media yang terorganisasi dengan baik memiliki sifat terbuka sekaligus tertutup. Media terbuka dengan sistem-sistem lain yang berada di sekelilingnya namun dia juga mempunyai batasan untuk menseleksi bagian mana yang akan berintegrasi. Segala sesuatu atau informasi tentang masyarakat dapat diketahui melalui media massa. Itulah mengapa media massa diharapkan dapat menjadi sebuah medium untuk menyalurkan informasi yang benar kepada masyarakat. Di tengah hiruk pikuk sistem lain yang berada di sekitar media, dia harus menunjukkan posisinya sebagai penyalur informasi kepada masyarakat sehingga media akan mencari tema yang menarik perhatian. Informasi yang diakses kemudian akan berputar di dalam ruang publik dengan pendapat masing-masing individu sebagai penerima pesan. Tentu saja penafsiran satu orang dengan orang lainnya akan berbeda. Ruang publik itulah yang akan menjadi sebuah medium bagi mereka sebagai umpan balik dari informasi yang didapat. Namun pertanyaan selanjutnya muncul, apa dan bagaimana ruang publik tersebut dapat terbentuk. Siapa pula individu yang berperan sebagai publik yang menerima informasi dari media. Dimana saja ruang publik dapat diakses oleh masyarakat. Pemikiran dari Jurgen Habermas mungkin dapat membantu menjelaskan tentang dasar dari ruang publik yang akan dikaitkan dengan media massa dan masyarakat Indonesia.

 

Kekuatan Media dalam Mempengaruhi Ruang Publik

Menurut Habermas, ruang publik membutuhkan sebuah forum yang memungkinkan bertemunya banyak orang dan menjadi tempat berbagi pengalaman sosial yang dapat diekspresikan dan dibagikan. Segala pendapat dan argumen mengenai didiskusikan secara rasional. Dalam ruang publik seharusnya ada pandangan yang jernih dan jujur sebagi alternatif setiap individu. Kepentingan politik menjadi salah satu faktor untuk dapat mewujudkan diskusi yang rasional. Terbentuknya ruang publik berguna untuk mengawasi kebijakan pemerintah secara kritis dan sistematis (LP3ES, 2006:173). Publik dapat mengontrol kebijakan tersebut melalui media massa. Sebenarnya tanpa media pun masyarakat dapat saling berkomunikasi melalui tatap muka, namun yang menjadi persoalan adalah apakah seseorang yang berada di Aceh dapat langsung bertemu dengan orang yang ada di Jakarta. Waktu menjadi faktor yang penting bagi seseorang dalam mendapatkan sebuah informasi sehingga media sangat berperan dalam kehidupan manusia.

Salah satu alat yang mereproduksi pandangan dominan dalam budaya adalah media massa. Kehidupan masyarakat modern tidak dapat dilepaskan dari keberadaan media massa. Ritme hidup manusia modern berjalinkelindan dengan media massa, mulai dari Koran pagi sampai film tengah malam (Narendra, 2006:160). Media mempunyai tugas untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat akan haknya dalam interaksi sosial. Media mengkonstruksi identitas nasional. Media bermain peran dalam batas kultural di antara kita dan mereka (Lunenborg and Fursich, 2011:959).

Publik adalah representasi dari media massa. Apa yang terjadi di ruang publik adalah hasil konstruksi dari media. Ketika media menyebarkan informasi yang stabil maka, publik juga akan ikut stabil, begitu juga sebaliknya ketika media memberikan berita berubah-ubah, publik pun akan mengikutinya. Dilihat lebih seksama, media seolah-olah memberikan pengetahuan kepada khalayak dengan berbagai informasi setiap hari dan disaat yang sama mereka mengabaikan efek dari apa yang telah diberikan.

Fenomena yang belum lama terjadi misalnya tentang kelangkaan BBM. Media sebagai tempat informasi yang dipercaya oleh masyarakat kemudian menyiarkan berita yang tidak utuh tentang kelangkaan tersebut sehingga membuat masyarakat panik dan chaos di setiap daerah. Antrian untuk membeli bahan bakar terjadi dimana-mana hingga menganggu kestabilan hidup. Masyarakat tidak lagi dapat berpikir rasional karena mereka takut kebutuhan sehari-hari tidak terpenuhi tanpa BBM. Padahal pemerintah sendiri masih menjamin ketersediaan BBM cukup hingga akhir tahun. Kekuatan media untuk menggerakkan masyarakat sangat mudah untuk dirasakan. Disanalah ruang publik berperan karena semua orang bebas untuk mengakses dan ketika ada aktor yang membuat sebuah tindakan, yang lain akan mengikuti.

 

Perkembangan Ruang Publik di Indonesia

            Konsep ruang publik yang ditawarkan Habermas belum sepenuhnya dapat diterapkan di Indonesia. Demokrasi yang selalu dijadikan pedoman dalam setiap pengambilan keputusan masih saja tercemar dengan adanya aktor-aktor yang muncul dengan membawanya kepentingannya. Harapan bahwa setiap individu mampu memberikan suara sudah terealisasi walaupun belum merata. Perkembangan industri budaya mewarnai dinamika yang terjadi di dalam ruang publik. Munculnya media massa menyebabkan ruang publik hadir dalam bermacam bentuk yang cenderung tidak jujur dan manipulatif. Politik misalnya, menjadi sebuah kekuatan yang senantiasa mengiritasi informasi yang muncul media. Selain itu, kepentingan ekonomi dan komersialisme juga berjalan mengikutinya. Opini publik dibentuk sedemikian rupa seperti apa yang diinginkan oleh aktor di balik media. Jarang ditemukan lagi diskusi yang terbuka, jujur dan rasional seperti yang diharapkan pada awal muncul ruang publik.

            Ruang publik adalah bagian penting dalam masyarakat demokrasi. Ketika kapitalisme masuk terlalu jauh dan mempengaruhi rasionalitas seseorang, bukan tidak mungkin keputusan yang muncul adalah kebohongan. Pikiran-pikiran semakin menurun kuantitasnya. Dampak dari iklim kapitalisme di media Indonesia mempengaruhi konten informasi. Isi berita yang ditawarkan media misalnya televisi jauh dari informasi pendidikan karena yang menjadi fokus adalah profit. Hal-hal yang muncul adalah sensasionalisme, gaya hidup kontemporer dan jurnalisme instan.

Media massa pada saat ini sering dikritik sebagai sebuah struktur yang melanggengkan berbagai kepentingan dan dua kekuasaan yang saling tarik menarik dalam masyarakat. Kepentingan tersebut adalah kepentingan Negara dan kepentingan pasar atau kapital. Media digunakan Negara sebagai alat hegemoni agar dapat menciptakan kondisi aman terkendali (LP3ES, 2006:180). Sedangkan media digunakan oleh kepentingan pasar untuk dapat menghasilkan keuntungan misalnya melalui iklan.

Yang terjadi sekarang sulit untuk menemukan dimana ruang publik yang sesuai dengan pikiran Habermas di Indonesia. Pertama, semua tema atau topik dapat masuk ke dalam ruang publik padalah di konsep awal dijelaskan bahwa ruang publik yang ideal hanya membahas sesuatu yang benar-benar penting misalnya politik. Sedangkan ruang publik di Indonesia mencampur adukkan semua topik berdasarkan keinginan pasar sampai-sampai privasi seseorang menjadi perbedatan di antara masyarakat. Hal tersebut terjadi karena media ingin mendapatkan keuntungan dari fenomena yang disukai masyarakat. Misalnya tentang acara entertainmen yang membahas mengenai kehidupan seseorang. Ruang pribadi adalah tempat bagi individu yang ingin mengembangkan personalitinya, hidupnya dan identitasnya. Pendapat dan hubungan dengan keluarganya berada dalam situasi yang jujur dimana tidak ada relasi kuasa, tidak ada pengaruh dari luar dan yang terpenting tidak ada intervensi (McKee, 2005:51). Publik sesungguhnya tidak perlu memikirkan tentang hal kecil yang tidak berpengaruh kepada kehidupannya. Namun media melihat peluang itu sebagai sebuah komoditas dan jika diolah dengan baik akan menghasilkan profit. Dari situlah rasionalitas masyarakat Indonesia semakin tergerus karena tidak dilatih untuk berpikir kritis. Ruang publik hanya dipenuhi oleh masalah-masalah yang tidak memberikan masukan kepada kemajuan bangsa.

Kedua, konvergensi media di Indonesia bergerak cukup cepat. Media-media yang dulunya berdiri dengan sistem sendiri digabung menjadi satu. Televisi, Koran, radio, telepon dan internet dilebur bersamaan secara teknologi. Terjadi pemusatan dalam satu tempat yang kemudian dikontrol oleh seseorang atau beberapa pemilik perusahaan yang sama. Siaran media mampu memangkas ruang, jarak dan waktu karena berada dalam satu komando. Pemilik media dapat dengan mudah mempengaruhi opini publik melalui media yang beragam. Sebuah informasi yang diulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran. Masyarakat tidak memiliki pilihan yang banyak sehingga akumulasi pengetahuan hanya sedikit. 

Ruang publik yang diharapkan mampu memberikan kebaikan menjadi tantangan bersama di masa depan. Media massa sebagai bagian dari demokrasi akan mempengaruhi bagaimana masyarakat mengambil keputusan. Di sisi lain, media juga berkaitan dengan industri kapitalis yang jauh bertentangan dengan demokrasi. Keberadaan ruang publik di Indonesia terlihat berkembang dimana setiap individu dapat mengakses informasi dan berkomunikasi dengan mudah di berbagai media. Namun sebenarnya disana belum tercipta ruang publik yang berkualitas jika dilihat dari pemikiran Habermas. Paradoks yang terjadi dalam publik seperti yang dikhawatirkan Habermas memunculkan terjadinya pertarungan antara kepentingan publik dan kepentingan ekonomi politik. Demokrasi menjadi jalan tengah yang dapat mengakomodasi antar kepentingan (LP3ES, 2005:176).

Ruang publik tidak hanya menawarkan informasi secara rasional yang dapat mengubah pandangan tentang isu publik namun juga dapat mengubah kehidupan seseorang dengan kekuatan untuk menggerakkan masyarakat. Habermas menawarkan konsep ruang publik sebagai dasar dari wacana rasionalitas. Bentuk deliberasi publik, pengambilan keputusan dan komunikasi adalah hasil dari partisipasi masyarakat itu sendiri (Newman, 2005:120). Masyarakat yang saling berinteraksi akan menghasilkan pendapat yang heterogen namun ketika ada aktor yang lebih kuat, opininya akan dominan. Pertumbuhan sosial yang bebas dari dominasi dan intervensi adalah harapan dengan adanya ruang publik. Saat ini media semakin mengarah ke arah komersil sehingga setiap berita yang dianggap memiliki nilai berita kemudian dijadikan komoditi untuk mendapatkan profit.

 

Referensi:

Barker, Hannah. Press, Politics and the Public Sphere in Europe and North America 1760-1820. UK: Cambrigde University Press, 2004

Habermas, Jurgen. The Theory of Communicative Action: Reason and the Rationalization of Society. Beacon Press. 1984

LP3ES, Tim Redaksi. Jurnalisme Liputan 6: Antara Peristiwa dan Ruang Publik. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2006

McKee, Alan, An Introduction to the Public Sphere, UK: Cambrigde University Pres. 2005

Newman, Janet. Remaking Governance: People, Politics and the Public Sphere. UK: The Policy Press University of Bristol. 2005

Peters, John, D. Toward a Political Economy of Culture: Capitalism and Communication in the Twenty First Century, Chapter 4. USA: Rowman and Littlefield Publishing Group, Inc. 2004

Wahyuni, Hermin, I. Handout Komunikasi dalam Perspektif Sistem dan Aktor. Program S2 Komunikasi Universitas Gadjah Mada. 2011