HALAMAN

POTRET PEREMPUAN DALAM SINETRON (Tontonan atau Tuntunan)


Oleh: Dwi Pela Agustina, S.I.Kom, M.A.

 

Sejak kemunculan siaran televisi swasta di Indonesia sekitar awal tahun 90-an, berbagai program pertelevisian mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat. Salah satunya adalah program drama berseri atau yang lebih dikenal dengan istilah sinetron.  Sinetron merupakan akronim dari sinema elektronik yang berarti sebuah karya cipta seni budaya, dan media komunikasi pandang dengar yang dibuat berdasarkan sinematografi dengan direkam pada pita video melalui proses elektronik lalu di tayangkan melalui stasiun televisi.

Hampir setiap hari masyarakat Indonesia seolah tersihir oleh tontonan sinetron di televisi. Terlebih lagi kebanyakan sinetron tayang pada jam dimana kebanyakan orang memiliki waktu luang untuk melihat tayangan tersebut bersama keluarga, atau yang lebih dikenal dengan istilah primetime. Kelihaian sang penulis dalam membuat naskah sebuah sinetron merupakan salah satu sebab mengapa sinetron hingga kini masih diminati oleh pecintanya. Ini tentu merupakan kemajuan pesat yang sangat menggembirakan, akan tetapi industri hiburan audiovisual ini kurang mampu memilah sebuah tontonan yang layak untuk dijadikan tontonan sekaligus tuntunan. Terkadang banyak adegan yang vulgar yang jauh dari unsur edukatif dan rasionalitas yang berujung pada nilai negatif.

Belakangan ini peran sinetron hanya mampu memberikan hiburan, sehingga mengabaikan perannya sebagai edukasi dan pencerahan. Dalam praktiknya, fungsi edukatif dalam sebuah tayangan sinetron seringkali harus mengalah dengan fungsi menghibur. Jika kita cermati, sebagian besar sinetron di Indonesia ceritanya hanya seputar rumah tangga. Salah satu konflik dalam rumah tangga yang diekploitasi habis-habisan oleh penulis skenario adalah permasalahan perempuan. Ini bisa kita lihat dari beberapa judul sinetron yang bertema konflik keluarga dan memakai judul nama perempuan atau menggunakan perempuan sebagai tokoh utamanya. Jika ratingnya bagus, maka tidak jarang penulis skenario sengaja memperpanjang cerita sehingga konflik yang ditampilkan terkesan tidak masuk akal. Salah satu gambaran tidak masuk akal dalam sinetron adalah tokoh antagonis yang didominasi oleh perempuan. Dalam sinetron, perempuan antagonis dan protagonist digambarkan berada dalam kutub ekstrim. Tokoh protagonist perempuan biasanya digambarkan memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi cobaan. Mereka senantiasa digambarkan sebagai pihak yang teraniaya dan tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Sedangkan tokoh antagonis perempuan digambarkan sangat kejam, hanya berorientasi pada harta, serta menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Selain itu, ketika mendengar adanya kekerasan terhadap perempuan, seringkali yang terlintas dalam benak kita adalah perempuan sebagai korban, sehingga sering terdapat adegan kekerasan oleh perempuan kepada perempuan dengan motif harta atau cinta telah merasuki pikiran para penonton. Cerita-cerita tentang perempuan yang tidak bisa lepas dari stereotipe kejam dan lemah telah mempengaruhi para penonton sehingga terbentuk suatu kesadaran bahwa ibu tiri itu kejam, jika seorang perempuan cantik menikahi lelaki kaya maka dia cuma ingin hartanya, atau seorang lelaki kaya dan mapan harus dipertahankan dengan segala cara. Disinilah gambaran perempuan sebagai pelaku kekerasan dan korban kekerasan dalam intrik rumah tangga terbentuk melalui tayangan sebuah sinetron.

Kemudian dalam sebuah sinetron perempuan bisa jadi pihak yang sangat lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk memperjuangkan nasibnya atau bisa menjadi pihak penindas yang bisa berlaku sangat kejam terhadap saingannya yang biasanya adalah perempuan juga. Lebih menyesatkan lagi, sinetron tidak mengupas permasalahan dalam rumah tangga atau persoalan perempuan secara tuntas. Sinetron hanya mengekploitasi konflik tanpa pernah ingin lepas dari konflik karena tanpa konflik, cerita di sinetron tersebut tidak akan pernah bisa diperpanjang. Cerita yang menawarkan gambaran perempuan yang lemah dan licik namun tidak menawarkan sebuah solusi itulah yang kemudian menyesatkan masyarakat yang menontonnya. Penonton hanyalah menerima gambaran perempuan yang berlawanan tadi. Perempuan diposisikan sebagai penguasa sekaligus korban dalam sinetron yang bermunculan di televisi kita akhir-akhir ini.

Beragam peran yang ditayangkan dalam sinetron tentu saja tidak terlepas dari aktris dan aktor yang melakoninya. Para Aktris dan aktor ini biasanya dipilih dengan berbagai kriteria, salah satunya adalah memiliki rupa yang menarik (good looking). Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya, sebuah sinetron biasanya didominasi oleh para aktris, baik sebagai pemeran utama maupun pemeran figuran, namun perempuan seperti apa yang diperankan si Aktris dalam sebuah sinetron? Inilah yang kerapkali menuai dilematis tersendiri bagi beberapa pihak yang jengah dengan kemajuan sinetron saat ini. Disatu sisi merugikan, disatu sisi lagi – terutama bagi aktris – tentu saja hal ini adalah keuntungan material bagi pundi-pundi keuangannya.

Sebagai contoh dalam sebuah sinetron, ada adegan seorang ibu tiri yang memperlakukan anak tirinya dengan super kejam. Si ibu tiri melarang anaknya belajar, karena dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah. Si anak tiri pun kerap tak dikasih makan, dengan harapan si anak sakit dan mati kelaparan agar anak kandungnya menjadi pewaris harta. Sementara ayah si anak tiri terlalu sibuk dengan pekerjaanya.

Lain lagi dengan adegan remaja perempuan yang memperebutkan cinta dari satu orang pria. Sang pria mencintai seorang perempuan yang dalam hal ini pemeran utama yang baik hati dan sederhana, sedangkan perempuan lainnya identik sebagai seleb sekolah/kampus yang antagonis yang selalu ingin menarik perhatian sang pria. Bahkan berbagai cara pun dilakukan. Mengintimidasi pemeran utama, berbuat curang dan melakukan tindakan semena-mena, seperti mengurung pemeran utama di dalam toilet, bertindak kasar, bahkan ada juga yang hampir membunuh saingannya. Bahkan dengan pesaingnya si pemeran antagonis melakukan adegan berkelahi, jambak-jambakan rambut, teriak-teriak dengan kata-kata kotor dan kasar. Adakah perempuan, apalagi yang menjadi seorang ibu mampu sesadis itu? Meski kita tahu, realitas seperti itu bisa saja memang ada dan benar-benar terjadi di masyarakat. Perempuan atau ibu tiri kejam memang secara riil ada. Demikian pula dengan perempuan yang mendewakan uang, remaja yang memperebutkan cinta seorang pria dengan berbagai cara dan isteri berselingkuh pun dapat kita jumpai dimana-mana. Tapi apakah perlu ditayangkan dengan sedemikian rupa seolah-olah mengambarkan bahwa seorang perempuan benar-benar bisa bertindak sadis seperti itu?

Adegan lain lagi yang tentu saja tidak menguntungkan bagi kaum perempuan ialah perempuan yang senantiasa ditindas oleh laki-laki yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, korban perkosaan dan pelecehan seksual. Belum lagi eksploitasi terhadap perempuan ditandai dengan adanya adegan perempuan-perempuan seksi yang menonjolkan sensualitas semata. Seolah-olah perempuan hanya bisa ditindas, bersikap lemah dan menjadi objek seks. Padahal tidak demikian seharusnya. Belum lagi sinetron yang menawarkan kehidupan hedonis yang seolah menawarkan kepada pemirsa bahwa kehidupan hedonis adalah kehidupan yang bahagia, sejahtera, bisa melakukan apa saja; penguasaan, penindasan dan sebagainya.

Memang, sebenarnya para insan sinetron tersebut hanya mencoba menggambarkan realitas yang ada di dalam masyarakat kita. Akan tetapi sebuah tontonan diharapkan juga berfungsi sebagai tuntunan dan bukan realitas yang sesungguhnya diangkat secara ‘mentah’ ke dalam sebuah tayangan hiburan. Analoginya ialah sebuah lukisan gunung misalnya, ia tetap sebuah lukisan bukan gunung itu sendiri. Sama juga halnya dengan sinetron tentang kehidupan rumah tangga bukanlah rumah tangga yang sebenarnya, tapi sebuah rumah tangga yang dikemas sedemikian rupa oleh sutradara dan pelakon yang melakoni, bukan sesungguhnya. Jika rumah tangga atau apapun realitas yang digambarkan tersebut dianggap sama persis dengan aslinya maka gambaran seorang perempuan yang lemah lembut, kuat dan tabah telah tergeser dengan gambaran yang digambarkan dalam sebuah sinetron.

Jadi bagaimanapun realistisnya, sebuah sinetron tetaplah sebuah “tiruan”. Dalam membuat tiruan itulah insan sinetron diharapkan tidak menggambarkan secara “vulgar” apa adanya. Insan sinetron, baik itu penulis, produser, sutradara dan pemain diharapkan memberi beragam dimensi. Tidak hanya dimensi seni dan hiburan tapi juga dimensi lain seperti moral, pendidikan, kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan sebagainya.

Beragam dimensi itulah yang nyaris tidak kita jumpai di dalam kebanyakan sinetron kita dewasa ini. Kata kebanyakan disini berarti tidak semua. Sebab ada juga sinetron yang mampu mencerminkan nilai-nilai atau gambaran positif terhadap perempuan. Akan tetapi tak ada salahnya kita menggantungkan harapan kepada insan sinetron nasional agar mereka mempertimbangkan beberapa dimensi sebagaimana yang sudah disebutkan diatas. Khawatirnya apabila mereka tetap memikirkan profit maka lambat-laun masyarakatpun akan jenuh, bukan tidak mungkin sinetron Indonesia akan mengalami kemunduran lantaran insan sinetron semata-mata terbius oleh tema-tema yang seragam demi bisnis jangka pendek, dengan kecenderungan kuat untuk menampilkan glamouritas yang berlebihan.

Jika hal ini berlarut-larut maka sinetron Indonesia akan sekedar menjadi dunia impian. Masyarakat pun lambat laun akan jenuh terhadap sajian-sajian sinetron di layar televisi yang makin “itu-itu” saja. Semakin banyak sinetron yang mendayu-dayu dengan nasib buruk perempuan dan tangis mereka.

Ketika televisi menayangkan sinetron yang bertemakan permasalahan diatas, maka dapat dikatakan bahwa sinetron Indonesia kebanyakan melecehkan gender. Dalam hal ini adalah gender perempuan yang dikosntruksi secara tidak baik. Secara tidak langsung tentu saja ini pelecehan. Pembunuhan karakter terhadap perempuan. Meskipun tak dipungkiri kebanyakan penyuka sinetron juga perempuan. Akan tetapi hal ini seolah menyatakan bahwa perempuan memang harus berlakon seperti itu. Inilah yang harus diperhatikan oleh insan sinetron.  

Padahal, seyogyanya berbagai macam jenis pelecehan termasuk di dalamnya pelecehan gender telah diatur dalam pedoman perilaku penyiaran dan pedoman program siaran (PPP dan SPS) pasal 44 ayat 3. “lembaga penyiaran dilarang menyiarkan program, adegan atau lirik yang dapat dipandang merendahkan perempuan menjadi sekedar obyek seks.” (Jurnal Media Watch, 2007)

Meskipun telah diatur sedemikian rupa lewat aturan yang dibuat oleh pihak berwenang, sepertinya kita tidak dapat berharap banyak dari kesadaran insan sinetron. Karena logikanya sinetron adalah bagian dari produk media yang tentu saja berujung pada ideologi kapitalisme media yang berorientasi market. Ini tidak hanya dihadapi dengan pengaturan melalui regulasi atau kode etik, melainkan juga harus dengan kesadaran mengendalikan efek media dan menggunakan media secara bijak.

Selain itu, sebagai penonton yang cerdas kita harus bisa bersikap kritis bahwa perempuan yang digambarkan dalam sinetron itu terlalu naif. Bagaimanapun juga sinetron tidak memberikan gambaran sesungguhnya mengenai kehidupan rumah tangga atau kepribadian perempuan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, masyarakat hendaknya memiliki kesadaran untuk melek media (media literacy) yang pada akhirnya akan berdampak pada selektivitas sehingga sinetron yang berkualitas dapat terwujud. Tidak hanya sekedar tontonan, tapi bagaimana tontonan itu juga bisa menjadi tuntunan ke arah kehidupan yang lebih baik.