HALAMAN

Mengenalkan Kliping kepada Mahasiswa Zaman Now


Oleh: Dwi Pela Agustina

 

Perkembangan teknologi dibanyak lini tentu saja dapat memengaruhi  bentuk pembelajaran dan pengajaran. Mahasiswa jaman saiki boleh ‘menang banyak’ dengan berkembangnya teknologi yang bernama internet. Bahkan boleh dikatakan bahwa mahasiswa bisa saja berguru pada mbah Google ketimbang dosennya. Demikian dengan dosennya, tak perlu berburu ke pustaka-pustaka ataupun banyak toko buku untuk mencari referensi pembelajaran, karena semua tersaji dalam tautan www.google.com. Ketik saja kata kunci yang hendak dicari maka informasi pun langsung tersaji dan kita pilih saja mana yang kita butuhkan.

Akan tetapi, tidak semua orang percaya begitu saja dengan informasi yang tersaji di Google. Membaca buku masih menjadi pilihan ketimbang membaca di layar laptop maupun gawai. Selain pertimbangan kesehatan mata yang konon dapat terpapar radiasi, informasi dari internet kerapkali tidak lengkap, alias hanya sepotong-sepotong saja. Belum lagi jika perangkat elektronik tidak mendukung untuk melakukan kegiatan berselancar di dunia maya, mislanya batre laptop habis, listrik padam, kuota internet habis dan sebagainya.

Saya pribadi termasuk orang yang suka dengan cara-cara konservatif ketika mengajar sehingga boleh jadi membuat greget para mahasiswa. Misalnya saja tugas kliping yang saya berikan di kelas-kelas mata kuliah jurnalistik 1. Pengenalan produk jurnalistik saya lakukan dengan menugaskan mahasiswa untuk mmebuat kliping. Kliping? Barangkali ada saja yang tidak tahu apa itu kliping? Mari kita buka kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Berhubung saya tidak mungkin membuka KBBI yang pasti tebalnya ratusan bahkan mungkin ribuan halaman, maka saya tidaklah sekonservatif yang dibayangkan. Maksud saya buka kamus adalah buka kamus daring KBBI dengan tautan https://kbbi.kemdikbud.go.id/ karena membawa KBBI itu berat, cukup versi daring saja.

Dalam KBBI disebutkan bahwa Kliping adalah guntingan atau potongan bagian tertentu dari surat kabar, majalah, dan sebagainya, yang kemudian disusun dengan sistem tertentu. Ide kliping ini sebenarnya semacam nostalgia saya ketika pernah membuat kliping ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, tugasnya ialah membuat kliping dengan tema tertentu. Misalnya berita yang berkaitan dengan artis A, pada kesempatan lain membuat kliping tentang berita bola, kliping tentang resep makanan dan sebagainya. Bahkan membuat kliping pernah dijadikan sebagai hobi yang bergengsi di masanya, sama seperti hobi mengoleksi perangko (filateli), koleksi kertas binder, atau koleksi poster artis, atlet ataupun tokoh terkenal yang menjadi idola. Bahkan kliping juga bisa menjadi hobi dalam wujud kecintaan akan artisnya tak jarang mereka membuat kliping tentang tokoh idolanya kemudian saling bertukar kliping dengan temannya sesama pembuat kliping, atau orang yang tidak hobi mengkliping tapi ingin mendapat informasi dari kliping temannya yang ini semua sulit sekali ditemukan pada masa ini.

Hobi ini tentu sudah tergerus oleh waktu dan perkembangan teknologi yang memungkinkan penggemar dengan mudahnya mengetahui informasi mengenai idolanya lewat pemberitaan media massa (tidak hanya cetak, tapi juga media elektronik termasuk internet). Kita tak perlu menunggu-nunggu kapan artis idola kita muncul di media massa karena akun media sosial sang Idola hampir setiap hari up to date untuk menginformasikan kegiatan mereka. Kemudian akan muncul pertanyaan, “Nah loh, lalu kaitannya sama mata kuliah jurnalistik apa Bu?”

Terlepas dari nostalgia masa lalu tersebut, maka saya pikir metode kliping sebagai bentuk pengingat dapat diterapkan untuk mengenal produk jurnalistik atau produk media massa. Secara umum, kita mengetahui bahwa produk jurnalistik yang utama ialah news (berita), namun dalam beberapa literatur, produk jurnalistik terbagi atas tiga yaitu; Views (ulasan), News (berita), Advertising (advertensi atau iklan). Namun dalam literatur lain, Advertising bukanlah termasuk ke dalam kategori produk jurnalistik karena memiliki ranah tersendiri dalam ilmu komunikasi karena cukup njelimet, mulai dari definisi, karakteristik, kategori isi, desain, serta media yang digunakan. Oleh karena itu, dalam mata kuliah Jurnalistik cukup kita fokuskan saja hanya pada Views dan News saja tanpa mengabaikan pengetahuan tentang advertensi. Karena pada prinsipnya, ketiganya saling berkaitan dan memiliki peran masing-masing dalam media massa. Karena media tanpa advertensi tentu saja akan bangkrut.

Kemudian muncul pertanyan lagi, “Tapi Bu, ada media yang enggak ada iklan tapi bisa jalan” Ini pernyataan yang benar tentu saja, hanya perlu kita cermati jenis dan segmentasi medianya. Apalagi jaman saiki banyak media daring (baca:online) yang bisa bertahan hidup akan tetapi kita tidak pernah melihat ada konten iklan bahkan dalam bentuk advertorial (iklan berupa berita, bukan gambar atau poster) pun tidak. Media seperti ini biasanya bertahan hidup dari klikbait yang ia dapatkan dari pengguna atau pembaca dunia maya. Disamping itu, contoh lain adalah media yang didirikan oleh pemilik modal yang hanya butuh publikasi saja misalnya, atau media internal sebuah instansi pemerintah, swasta dan sebagainya yang bertujuan untuk dokumentasi ataupun promosi kegiatan. Media seperti ini lazimnya dibuat oleh orang-orang yang menjadi PR (Public Relation) atau Humas pada institusi atau perusahaan.

Kembali ke topik kliping, kliping dapat memudahkan kita mengidentifikasi apa yang menjadi produk jurnalistik. Mahasiswa dapat membedakan masing-masing produk jurnalistik khususnya di media cetak (Yaiyalah media cetak, kan kliping guntingan atau potongan). Produk jurnalistik kategori views ialah tajuk rencana, karikatur, artikel (praktis, ringan, halaman opini, analisis ahli), Pojok, Kolom, cerita dan hiburan, serta resensi (film, buku, acara). Sementara produk news terdiri dari straight news (hard dan soft news), Depth News, Investigative news, feature news dan photo news. Secara definisi mahasiswa boleh jadi dapat penjelasan dari dosen yang bersangkutan ataupun mbah Google namun secara praktisnya, metode kliping akan dapat membantu mahasiswa untuk mengategorikan produk jrunalistik tersebut. “Saya bingung bu” pernyataan tersebut pasti muncul, akan tetapi simpan pertanyaan itu terlebih dahulu, baca kembali definisinya dan baca produk jurnalistiknya. Niscaya Anda pasti dapat membedakannya. Sehingga anda tentu saja dapat membuat kliping yang benar dan lengkap sesuai dengan instruksi yang diminta. Selamat membuat kliping! ***

 

Penulis merupakan Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta

Penulis juga kerapkali menulis soft news dan artikel pada situs puan.co dengan nama pena Wilagusna Roshan

Diskusi terkait media, gender dan jurnalisme dapat melalui email dwipela@gmail.com